Breaking News

Sejarah Hari Valentine yang Malah Tidak Ada Cinta-cintaan

Sejarah Hari Valentine yang Malah Tidak Ada Cinta-cintaan

Sejarah Hari Valentine yang Malah Tidak Ada Cinta-cintaan
Sejarah Hari Valentine yang Malah Tidak Ada Cinta-cintaan

Hari Valentine ialah hari yang ikonis sekali sama jalinan cinta. Yang pacaran bilang “I love you”, memberi cokelat, mengirim bunga, quality time sambil dinner bareng. Yang jomblo cuma ada tiga pilihan: nembak gebetan dan diterima, nembak gebetan tetapi ditolak, atau diam doang di dalam rumah sekalian masih merendam hati.
Jika ngebahas apakah arti Hari Valentine, it’s all about love; hari saat elo dapat ngungkapin hati ke siapa saja yang kamu sayangi.

Tetapi, kamu tahu tidak sih jika sebetulnya sejarah Hari Valentine tidak ada hubungan sama cinta? Terus, mengapa dapat dipandang seperti hari kasih-sayang?

Sejarah Lahirnya Hari Valentine

Sejarah Lahirnya Hari Valentine
Sejarah Lahirnya Hari Valentine

Saat sebelum mengulas mengenai sejarah Hari Valentine, sebetulnya apakah arti Valentine? Jika mengarah pada Cambridge Dictionary, Valentine ialah kartu unyu yang umum dikirimkan seorang buat orang tersayang saat Hari Valentine. Terus, mengapa namanya harus Valentine?

Ada banyak versi yang berkembang mengenai sejarah lahirnya Hari Valentine. Dua legenda yang terkuat ialah cerita Santo Valentinus dan Festival Lupercalia. Saya akan ceritain satu-satu.

Cerita Santo Valentinus

Cerita Santo Valentinus
Cerita Santo Valentinus

Sekitaran tahun 1600-an, barisan biarawan asal Belgia namanya Bollandist buat manuskrip kelompok narasi beberapa orang suci (santo) di penjuru dunia. Manuskrip namanya Acta Sanctorum itu dicatat sama sesuai posisi tanggal peringatan beberapa santo.

Acta Sanctorum usai dicatat di tahun 1940. Salah satu narasi yang dicatat ialah hari raya pada 14 Februari. Didalamnya, tertera sejarah mengenai 3 orang suci bernama yang serupa, Santo Valentinus. Mereka wafat di tanggal yang serupa di era ke 3 , tapi di tahun yang lain.

Santo Valentinus pertama wafat di Afrika. Ia ditulis wafat sama 24 tentara. Tetapi, tidak dijelasin bagaimana detailnya. Santo Valentinus ke 2 yakni biarawan Roma sekalian dokter di Era Tengah. Waktu itu, banyak orang Romawi jadi pagan (penyembah berhala). So, Valentinus ngajak warga buat ninggalin paganisme dan beragama Kristen.

Kaisar Romawi waktu itu, Claudius II, geram sama tindakan Valentinus. Ia juga memerintah bawahannya buat nangkap Valentinus. Valentinus langsung dijeblosin ke rumah tahanan. Di situ, Valentinus dipantau sama ketua tahanan namanya Asterius.

Dalam tahanan, Valentinus masih tetap semangat buat ngenalin agama Kristen ke penghuni tahanan yang lain berpedoman paganisme. Asterius jadi ingin tahu sama Valentinus. Karena Asterius tahu jika Valentinus ialah dokter yang dikenali dapat nyembuhin penyakit, Asterius nantang Valentinus buat nyembuhin anaknya dari kebutaan. Jika anaknya dapat menyaksikan, Asterius dan satu keluarga akan merengkuh Kristen.

Dibawalah anak Asterius di depan Valentinus. Sesudah doakan sang anak dan naruh tangannya di mata anak Asterius, anak itu dapat melihat lagi. Asterius satu keluarga langsung merengkuh Kristen. Kaisar Claudius II dengar berita itu. Ia murka dan meminta semuanya orang yang turut serta buat dilakukan. Santo Valentinus digebukin, dilempar gunakan batu, dan dipotong. Meninggalnya tercatat di tanggal 14 Februari 270.

Santo Valentinus ke 3 ialah seorang uskup di Terni, Italia. Cerita Santo Valentinus ke 3 ini sama persis cerita Santo Valentinus ke-2 . Valentinus menampik paganisme. Ia dikenal juga sebagai dokter yang dapat nyembuhin cacat fisik.

Satu hari, ada masyarakat di tempat yang minta bantuan Valentinus buat nyembuhin anaknya yang tidak dapat berbicara. Valentinus siap. So, hadirlah keluarga sang anak dan beberapa intelektual di Terni. Mereka melihat Valentinus berdoa dan buat anak itu pulih. Mereka lantas beragama Kristen.

Ending-nya sama: Kaisar Claudius II memerintah buat memotong Santo Valentinus, karena menampik paganisme dan ngajak orang ninggalin paganisme. Keserupaan narasi di antara ke 2 santo itu dipandang bukan mengenai 2 orang yang lain, tapi seseorang dengan 2 bversi narasi yang lain.

Ke 2 versi yang serupa itu selanjutnya berkembang pada sebuah narasi. Menurut legenda, Kaisar Claudius II ngelarang beberapa prajurit singgel buat menikah. Masalahnya, prajurit yang sudah nikah dan miliki anak condong kalah dalam peperangan, karena konsentrasi memikirkan keluarga.

Santo Valentinus, yang menjadi pendeta di Roma, tidak sepakat sama larangan itu. Ia masih tetap menikahkan beberapa pasangan secara sembunyi-sembunyi. Tetapi, laganya tertangkap sama Kaisar Claudius II dan buat ia masuk tahanan. Dalam tahanan, sikap Valentinus buat kepala penjaga yang namanya Asterius berkesan. Asterius minta bantuan Valentinus buat ngajarin Julia, anak wanitanya. Masalahnya, Julia buta dan tidak dapat belajar sendiri. Mulai sejak itu, Santo Valentinus bersahabat sama Julia.

Satu hari, Kaisar Claudius II nawarin Valentinus buat bebas, asal ia gabung sama golongan pagan. Valentinus menampik dan ngajak Kaisar Claudius II buat merengkuh Kristen. Kaisar jadi geram dan kualitassin buat memberi hukuman mati Valentinus.

Saat sebelum dibunuh, Valentinus menulis catatan kecil buat Julia, yang memberi pesan supaya Julia masih tetap menjaga imannya. Diakhir catatan, ia tuliskan “From your Valentine.” Tetapi, Bollandist tidak memiliki catatan dasar sejarah mengenai versi yang berkembang itu.

Festival Lupercalia

Festival Lupercalia
Festival Lupercalia

Di zaman Romawi Kuno, Lupercalia sebagai festival kesuburan yang sudah dilakukan oleh golongan pagan. Festival ini diselenggarakan pada 13-15 Februari tiap tahun. Festival Lupercalia diperuntukkan buat Faunus (dewa pertanian Romawi) dan Romulus dan Remus (pendiri Romawi). Kamu dapat baca sejarah Romawi di sini ya.

Awalannya, golongan pagan kumpul di gua suci yang dipercaya menjadi tempat bayi Romulus dan Remus dibesarkan oleh serigala. Pimpinan festival ngorbanin kambing untuk minta kesuburan, dan anjing untuk kemurnian. Kulit kambing itu diambil dan jadi cambuk.

Beberapa anggota festival selanjutnya turun ke jalan. Di situ, beberapa wanita sudah berbaris tanpa baju. Mereka sudah siap buat dipecut gunakan cambuk. Golongan pagan yakin jika pecut itu dapat menyuburkan wanita.

Festival Lupercalia ngadain “undian jodoh”. Beberapa nama wanita di kota dicatat dan ditempatkan ke sebuah guci besar. Beberapa lelaki singgel selanjutnya ambil gulungan nama di guci secara random. Nanti, nama wanita yang tercantum akan menjadi pasangannya pada tahun itu.

However, Paus Gelasius (Paus Gereja Katolik Roma waktu itu) merasa jika praktek Lupercalia tidak sesuai iman Kekristenan. Di akhir era ke 4, Paus Gelasius ngumumin jika 14 Februari jadi Hari Valentine buat kenang lagi Santo Valentinus. Penentuan Hari Valentine pada 14 Februari itu dipandang seperti langkah buat ngilangin festival Lupercalia yang dikerjakan pada 13-15 Februari.

Romantisasi Hari Valentine

Jika kamu baca cerita Santo Valentinus barusan, tidak ada elemen cinta sama sekalipun. Yang ada justru pembunuhan Santo Valentinus. Elemen cinta ada dalam versi festival Lupercalia, itu juga dalam undian jodoh.

Romantisasi Hari Valentine
Romantisasi Hari Valentine

Profesor bahasa Inggris dari University of Kansas, Jack B. Oruch, ungkap hasil penemuannya mengenai jalinan Hari Valentine dengan cinta. Oruch nemuin jika pertama kali romantisasi Hari Valentine dipelopori oleh penyair Inggris, Geoffrey Chaucer.

Di tahun 1375, Chaucer menulis puisi dengan judul Parliament of Foules. Chaucer nyeritain mengenai burung-burung yang bergabung pada musim kawin. Semua burung jantan usaha mengundang perhatian burung betina. Chaucer selanjutnya nyebut jika hari berkumpulnya untuk kawin ialah Hari Valentine. Sesudah perkawinan burung terjadi, hadirlah musim semi.

Penulis legend asal Inggris, William Shakespeare, di inspirasi sama Chaucer. Ia ikut juga mendokumentasikan Hari Valentine dalam kreasinya, salah satunya ialah dokumen sinetron dengan judul Hamlet (1599-1601). Watak Ophelia yang kasmaran sama Hamlet nyebut dianya sebagai “Valentine-nya Hamlet”.

Mulai sejak itu, bangsawan Eropa mulai buat surat cinta buat dikirimkan pada orang tercinta saat musim semi. salah satunya ialah Charles of OrlĂ©ans, Duke of Orleans, Prancis. Waktu Charles ditahan di Menara London, ia menulis surat cinta ke istrinya pada Februari 1415. Ia menulis jika ia cinta sekali sama istrinya, dan panggil istrinya dengan “My very gentle Valentine”.

Komersilisasi Hari Valentine

Valentine berubah dari hati sampai ke cuan. Pada era ke 18, rutinitas beberapa bangsawan buat buat surat cinta memberikan inspirasi beberapa pelaku bisnis di Inggris untuk membikin kartu Valentine.

Komersilisasi Hari Valentine
Komersilisasi Hari Valentine

Usaha ini selanjutnya menebar ke Amerika. Di tahun 1913, perusahaan namanya Hallmark Cards mulai menghasilkan kartu Valentine secara massal. Mulai sejak itu, bulan Februari telah berlainan di penjuru dunia, hingga kemudian kamu jadi mengenal Hari Valentine di periode sekarang ini.

Bagaimana, telah tercerahkan belum mengenai sejarah Hari Valentine? Atau kamu pernah dengar sejarah lain mengenai Hari Valentine? Kasih tahu saya di kotak kometar ya!

 

About

Check Also

Kebudayaan lokal Bali

Kebudayaan lokal Bali

Kebudayaan lokal Bali Kebudayaan lokal Bali – Berlibur atau wisata ke pulau Dewata, karena itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Comments

No comments to show.